Minggu, 04 November 2018

Berpelesir ke negeri Singa, is it a worth to try?

Waktu itu saya ingin sekali pergi keluar negeri untuk pertama kalinya. Untungnya saya memiliki teman yang sering travel sebagai backpacker, sehingga pengalaman itu pun saya dapatkan.

10 November 2016, tepat beberapa bulan setelah saya lulus dan wisuda untuk diploma 3 saya, saya pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Perasaan saya sudah campur aduk nggak karuhan, excited dan terbayang baying bagimana ya singapura itu.. Saya pertama kali take-off dari bandara Juanda Surabaya menggunakan jetstar, waktu itu pukul 2 siang. Seingat saya saya menginjakkan kaki pertama kali di Changi pukul 5 sore. Oh ya, ini pun juga pertama kalinya saya refill air minum di bandara yang airnya drinkable, serta pergi ke toilet yang tidak ada airnya sama sekali, cuma tersedia tisu L. Inilah foto saya ketika di Changi.




Di Changi pemandangannya sungguh menakjubkan, saya benar-benar terkagum. Untuk keluar dari Changi menuju hostel tempat saya menginap cukup dibutuhkan waktu lama. Pada pukul 7 malam saya tiba di hostel, saya langsung check in dan menaruh barang. Setelah itu saya makan, dan pergi menuju patung merlion untuk pertama kalinya. Perjalanan menuju patung merlion benar-benar melelahkan, jauuuuh banget. Kaki sampai gempor.

Sesampainya di hostel yakni pukul 12 malam, pas masuk kamar saya kagetnya bukan main. Ternyata kamar saya yang dipesankan teman saya adalah mixed-dorm, dimana ada laki-laki dan juga perempuan. Tepat di depan ranjang saya, ada pasangan bule yang tidur bareng dan sedang bercanda. Itu adalah pertama kalinya saya merasa aneh dan awkward banget, kikuk ngga tau harus ngapain. AC nya dingin banget, lampu udah dimatiin, kalau ke toilet suara pintu terdengar dan takut mengganggu penghuni lain. Akhirnya saya bersembunyi di balik selimut dan saya merasa sangat berdosa, saya berdo’a dan saya sangat tersiksa karena saya menahan pipis untuk waktu yang cukup lama, apalagi saya menginap disitu selama 3 hari. Rata-rata waktu itu turisnya laki-laki, saya berada di kamar pojok sendiri, perempuan, dan memakai kerudung lagi. Waktu itu ada bule yang ramah ada juga yang tidak.

Ke-esokan harinya saya melanjutkan perjalanan untuk menjelajah Singapur, yakni ke bugis, masjid sultan, haw par villa dan chinese garden. Saya makan di salah satu restoran turki di dekat masjid sultan dan saya memesan martabak dan es teh tarik. Saya sangat kelaparan, dan beberapa saat setelah makan martabak tersebut perut saya mual dan mulas, ya , hal itu dikarenakan bumbu martabak tersebut yang sangat kuat. 


Ini merupakan foto sisa martabak yang tersisa dan es teh tarik yang ada. Rempah-rempah yang dipakai sangat menusuk perut, tapi untungnya selanjutnya saya merasa baikan dan bisa melanjutkan perjalanan lagi. Setelah itu saya pergi ke haw par villa, disinya terdapat banyak sekali patung-patung kaisar china. Lalu, ke chinese garden. Disini tidak ada yang menarik, cuma terdapat replika monument ala-ala Cina. Dan yang terakhir ke bugis, disini banyak sekali penjual dan rata-rata murah. Disini saya membeli uncle ice cream, sayangnya rasanya kurang enak. Waktu itu saya beli saya kacang merah.

Berikut merupakan foto ketika saya di haw par villa dan chinese garden.






















Ke-esokan harinya, saya harus bangun shubuh buta untuk menjemput teman Kamboja dari teman saya. Pas bangun, saya cukup kaget ketika mendengar ada laki-laki Bule dan seorang perempuan yang berbisik-bisik dan kata yang keluar yang saya ingat dari si perempuan tersebut adalah “You are crazy”, dan dibalas oleh si bule, “ I know”. Dikarenakan lampunya gelap, saya sempat melihat si bule ganti celana disitu. Setelah itu mereka berdua naik keatas ranjang mereka dan tidur bersama. Waktu itu saya bingung, saya harus segera bangun dan mandi untuk bergegas pergi tapi kalau saya bangun, si bule dan perempuan itu bagaimana. Akhirnya, saya bangun dan mereka agak kaget pas tahu kalau ada yang sudah bangun. Tapi ya sudahlah, saya lalu melanjutkan perjalanan ke bandara Changi dan pergi ke sentosa. Di sentosa pun, sayangnya jauhhnya minta ampun. Jalan nya jauh, saya sudah nggak kuat lagi dan menyerah. Saya sempat menangis dan merasa berdosa sekali, karena selama saya di Singapur saya tidak pernah beribadah sholat sama sekali. Pas saya kembali ke hotel, saya sempat berbincang dengan salah satu bule dari UK dan aksennya syusaah banget. Saya cuman meng-iya kan dan menganggukkan kepala. Disitu saya merasa sedih, ternyata bahasa inggris saya nggak ada apa-apanya, bahkan teman saya yang bahasa inggrisnya sangat bagus menurut saya pun masih kewalahan.

Berikut adalah foto ketika saya berada di  dalam MRT, di sentosa island, patung merlion dan depan masjid sultan.

































Pelajaran yang saya dapat selama di Singapur adalah, Singapura untuk tata wilayahnya sangat rapi, terkenal sebagai Negara yang sangat mana untuk turis asing dan dendanya sangat tegas. Di dalam MRT jika makan atau minum bisa di denda dengan membayar uang yang cukup banyak, sama halnya jika merokok di gedung dan tempat yang tertutup, serta fasilitas publik yang lain. Orangnya sangat independden, orang tua renta tidak menjadi pengemis tetapi penjual tisu dan jajan ringan.

Dan beberapa hal ini cukup berkesan buat saya selama hidup saya. Disana banyak orang India, dimana dimata penduduk singapura sendiri india dianggap sebagai kasta rendah karena kebanyakan orang India bekerja di singapur sebagai pekerja kasar. Nah kita yang Indonesia, beruntung karena memiliki ras yang hampir sama dengan melayu. Untuk urutan kastanya adalah Chinese, Melayu, lalu India. Pas di singapur, saya sering dilirik oleh orang India, saya coba tanyakan ke teman saya dan ternyata orang India menganggap saya sebagai orang Cantik dimata mereka. Jadi buat orang Indonesia, standard kecantikan orang India adalah gadis berkulit sawo matang seperti kita. Orang Singapura rata-rata kalau jalan cepet-cepet, langkahnya gede-gede.. trus individualis banget.. awwwww…

Transportasi yang sering saya gunakan adalah MRT (kayak kereta kommunternya Jakarta tapi ini super duper cepet dan otomatis), jujur yang paling sangat saya benci dari Singapore adalah perjalanan nya. Dari MRT dan ke tempat tujuan yang lain, saya diharuskan jalan ples mines 3 kilometer dan itu cukup banget buat membuat kaki capek dan sempoyongan. Saya benar-benar kapok. Mencari makanan halal pun susah, makannya nasi goreng muluuu.. pernah nyoba nasi ayam khas Indonesia tapi rasanya aneh.. belom lagi apa-apa mahal. Toiletnya ngga ada air cuma tisu doang, dan.. disana saya tidak bisa sholat sama sekali. Tetapi, dari kejadian tersebut, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, saya baru menyadari bahwa Islam adalah agama sempurna yang mengatur semuanya, keteraturan, ketentraman, ketenangan, dan kedamaian.

Jadi, berdasarkan ulasan di atas, kalau ditanya apakah Singapura patut untuk di coba? Menurut saya pribadi tidak. Saya lebih memilih untuk menyarankan negara Malaysia atau Thailand yang nanti akan saya ulas di tulisan saya yang selanjutnya.