Selasa, 04 Desember 2018

Terimakasih Banyak Bandung, Kau Mengajarkanku Banyak Hal


Tanggal 30 November – 1 Desember 2018 ada short diplomatic course yang diadain oleh Universitas Jendral Achmad Yani untuk yang pertama kali. Acara ini di hadle oleh jurusan hubungan internasional. Aku tahu acara ini dari temen aku, sebut saja p**a. 

Sebenernya aku begitu paham acara nanti seperti apa, tetapi aku udah ada bayangan bahwa acara bakal kayak simulasi sidang pbb gitu. Jujur, ini pertama kalinya ke Bandung coy, hahahah. Super excited awalnya karna, Jakarta udah, Jogja udah, Bandung yang belom..  buat join acara ini aku habis sekitar 430 ribu untuk program dan akomodasi, tiket ekonomi pp 200 an. Nah, aku berangkatnya dari Jombang soalnya biar di bontotin nasi, kan lumayan.. Sayangnya, pas mau berangkat perut aku super duper mules parah, sempe diobatin sama ibuk aku hingga akhirnya ketiduran dan ketinggalan kereta. Walhasil beli tiket lagi, kereta bisnis yang harganya 4 kali lipat coy. Sempet nangis, untungnya Ibu aku menenangkan aku dan bilang, semua ini karena kehendak Allah, nggak tahu nanti Allah mau ngasih apa. Oke, dengan berat hati beli tiket itu padahal, awalnya aku ragu mau gak berangkat. 

Akhirnya, aku berangkat dengan kereta bisnis jam 8 dari Jombang dengan kondisi perut yang masih sakit, Alhamdulillah di kereta merasa lebih baik. Bisa tidur. Ternyata di kereta se-tempat duduk sama ibu ibu baik hati asli Bandung. Beliau cerita habis dijambret hp nya di Surabaya, setelah sekian lama ngobrol, dan taraa sampai di Bandung. Ibu tersebut menawarkan tumpangan untuk naik grab di tempat yang jaraknya lebih dekat menuju UNJANI. Aku awalnya ragu tapi Alhamdulillah ternyata orangnya beneran mau nolong, aku diturunin di BTC dan dikasih sarapan. Pas turun aku sempat salim dan pesen grabbike trus cus ke unjani. Sampai di unjani aku langsung ganti baju terus ikut seminarnya. 

Hari pertama aku ketinggalan banyak, tapi jujur cukup kecewa karena acaranya diluar ekspektasi aku total. Aku sempat bertanya menggunakan bahasa inggris dengan pedenya dan berkenalan dengan beberapa orang. Pas selesai acara, pas mau ke tempat untuk akomodasi aku aku nunggu lama.. disini terlihat panitia keteteran dan kurang professional banget. Akhirnya, pas sampai di tempat namanya zameena guest house, ternyata tempatnya ngga bagus-bagus amat. Kotor. Aku juga sekamar sama salah satu narasumber acara tersebut, yang dianya juga agak jorok. Pas dinner, aku dikasih makanan hotel nasi goring super manis yang bikin mual. Jujur aku kecewa banget. 

Besoknya, aku sarapan dan cek out. Ternyata sarapannya cuma nasi sama tempe goreng doang. Di hari kedua, aku duduk di tempat paling depan kanan pojok. Aku ngewakili Negara Canada. Dihari kedua, aku kecewa total karena acaranya sungguh boring dan aku nggak bisa speak up sama sekali.  Mungkin gegara aku terlalu pede diawal. Akhirnya aku mencari-cari cara buat keluar, yang ke toilet lah.. alas an lain lah hingga akhirnya aku bisa pergi ke tempat teman aku di Telkom university. Katanya gegara aku ikut 50% jadi ga dapat sertifikat. Waktu itu aku mikirnya entar dulu deh, daripada stress disini yang penting keluar dulu. Akhirnya aku pesen grab ke stasiun cimahi, buat naik ka local ke stasiun kiaracondong. Dari kiaracondong ke Telkom. Dapet driver grabcar yang culas banget lagi. Tapi yaudahlahh, akhirnya ketemu temen di Telkom trus cus ke kosan dia. Aku terkapar bisanya tidur doang. 

Besoknya rencana mau ke gedung sate sama forest walk tapi gabisa gegara temenku ada acara dan perutku juga sembelit parah, walhasil tidur doang. Keesokan shubuhnya aku balik, dan naik kereta dari kiaracondong. Sempet bingung gara-gara ga ada sarapan, tapi gapapa asalkan ga ketinggalan kereta.

Di kereta Alhamdulillah ketemu ibu-ibu baik hati nawarin sarapan gratis. Trus sempet juga beli makan di restorasi sampe diusir petugas. Perjalan bandung-surabaya melelahkan banget.. bosen banget.. apalagi kalau sendiri. Aku piker aku bakal mati. Di kereta aku sering bolak balik ke toilet gara-gara dingin pwool, perut juga ga enak. Sampai Surabaya jam set 10 dan Alhamdulillah dapat gojek yang super baik dan pengertian. Ditawarin beli makan dulu. Tapi aku nolak. Pas sampek kos aku beli bakso terus rebahan di kasur.

Ternyata perjalananku yang menghabiskan banyak biaya itu membuatku sadar akan pentingnya bersyukur dan menghargai yang aku punya, serta tidak sombong. Aku kemarin sempat sombong dan over pd. Ternyata perjalanan jauh yang sendiri itu ngga enak. Selain itu, jangan ngikutin kegiatan yang kamu nggak tahu dan kamu kurang menguasai. Ya, intinya itu.

Ini adalah beberapa foto yang ada
















Minggu, 04 November 2018

Berpelesir ke negeri Singa, is it a worth to try?

Waktu itu saya ingin sekali pergi keluar negeri untuk pertama kalinya. Untungnya saya memiliki teman yang sering travel sebagai backpacker, sehingga pengalaman itu pun saya dapatkan.

10 November 2016, tepat beberapa bulan setelah saya lulus dan wisuda untuk diploma 3 saya, saya pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Perasaan saya sudah campur aduk nggak karuhan, excited dan terbayang baying bagimana ya singapura itu.. Saya pertama kali take-off dari bandara Juanda Surabaya menggunakan jetstar, waktu itu pukul 2 siang. Seingat saya saya menginjakkan kaki pertama kali di Changi pukul 5 sore. Oh ya, ini pun juga pertama kalinya saya refill air minum di bandara yang airnya drinkable, serta pergi ke toilet yang tidak ada airnya sama sekali, cuma tersedia tisu L. Inilah foto saya ketika di Changi.




Di Changi pemandangannya sungguh menakjubkan, saya benar-benar terkagum. Untuk keluar dari Changi menuju hostel tempat saya menginap cukup dibutuhkan waktu lama. Pada pukul 7 malam saya tiba di hostel, saya langsung check in dan menaruh barang. Setelah itu saya makan, dan pergi menuju patung merlion untuk pertama kalinya. Perjalanan menuju patung merlion benar-benar melelahkan, jauuuuh banget. Kaki sampai gempor.

Sesampainya di hostel yakni pukul 12 malam, pas masuk kamar saya kagetnya bukan main. Ternyata kamar saya yang dipesankan teman saya adalah mixed-dorm, dimana ada laki-laki dan juga perempuan. Tepat di depan ranjang saya, ada pasangan bule yang tidur bareng dan sedang bercanda. Itu adalah pertama kalinya saya merasa aneh dan awkward banget, kikuk ngga tau harus ngapain. AC nya dingin banget, lampu udah dimatiin, kalau ke toilet suara pintu terdengar dan takut mengganggu penghuni lain. Akhirnya saya bersembunyi di balik selimut dan saya merasa sangat berdosa, saya berdo’a dan saya sangat tersiksa karena saya menahan pipis untuk waktu yang cukup lama, apalagi saya menginap disitu selama 3 hari. Rata-rata waktu itu turisnya laki-laki, saya berada di kamar pojok sendiri, perempuan, dan memakai kerudung lagi. Waktu itu ada bule yang ramah ada juga yang tidak.

Ke-esokan harinya saya melanjutkan perjalanan untuk menjelajah Singapur, yakni ke bugis, masjid sultan, haw par villa dan chinese garden. Saya makan di salah satu restoran turki di dekat masjid sultan dan saya memesan martabak dan es teh tarik. Saya sangat kelaparan, dan beberapa saat setelah makan martabak tersebut perut saya mual dan mulas, ya , hal itu dikarenakan bumbu martabak tersebut yang sangat kuat. 


Ini merupakan foto sisa martabak yang tersisa dan es teh tarik yang ada. Rempah-rempah yang dipakai sangat menusuk perut, tapi untungnya selanjutnya saya merasa baikan dan bisa melanjutkan perjalanan lagi. Setelah itu saya pergi ke haw par villa, disinya terdapat banyak sekali patung-patung kaisar china. Lalu, ke chinese garden. Disini tidak ada yang menarik, cuma terdapat replika monument ala-ala Cina. Dan yang terakhir ke bugis, disini banyak sekali penjual dan rata-rata murah. Disini saya membeli uncle ice cream, sayangnya rasanya kurang enak. Waktu itu saya beli saya kacang merah.

Berikut merupakan foto ketika saya di haw par villa dan chinese garden.






















Ke-esokan harinya, saya harus bangun shubuh buta untuk menjemput teman Kamboja dari teman saya. Pas bangun, saya cukup kaget ketika mendengar ada laki-laki Bule dan seorang perempuan yang berbisik-bisik dan kata yang keluar yang saya ingat dari si perempuan tersebut adalah “You are crazy”, dan dibalas oleh si bule, “ I know”. Dikarenakan lampunya gelap, saya sempat melihat si bule ganti celana disitu. Setelah itu mereka berdua naik keatas ranjang mereka dan tidur bersama. Waktu itu saya bingung, saya harus segera bangun dan mandi untuk bergegas pergi tapi kalau saya bangun, si bule dan perempuan itu bagaimana. Akhirnya, saya bangun dan mereka agak kaget pas tahu kalau ada yang sudah bangun. Tapi ya sudahlah, saya lalu melanjutkan perjalanan ke bandara Changi dan pergi ke sentosa. Di sentosa pun, sayangnya jauhhnya minta ampun. Jalan nya jauh, saya sudah nggak kuat lagi dan menyerah. Saya sempat menangis dan merasa berdosa sekali, karena selama saya di Singapur saya tidak pernah beribadah sholat sama sekali. Pas saya kembali ke hotel, saya sempat berbincang dengan salah satu bule dari UK dan aksennya syusaah banget. Saya cuman meng-iya kan dan menganggukkan kepala. Disitu saya merasa sedih, ternyata bahasa inggris saya nggak ada apa-apanya, bahkan teman saya yang bahasa inggrisnya sangat bagus menurut saya pun masih kewalahan.

Berikut adalah foto ketika saya berada di  dalam MRT, di sentosa island, patung merlion dan depan masjid sultan.

































Pelajaran yang saya dapat selama di Singapur adalah, Singapura untuk tata wilayahnya sangat rapi, terkenal sebagai Negara yang sangat mana untuk turis asing dan dendanya sangat tegas. Di dalam MRT jika makan atau minum bisa di denda dengan membayar uang yang cukup banyak, sama halnya jika merokok di gedung dan tempat yang tertutup, serta fasilitas publik yang lain. Orangnya sangat independden, orang tua renta tidak menjadi pengemis tetapi penjual tisu dan jajan ringan.

Dan beberapa hal ini cukup berkesan buat saya selama hidup saya. Disana banyak orang India, dimana dimata penduduk singapura sendiri india dianggap sebagai kasta rendah karena kebanyakan orang India bekerja di singapur sebagai pekerja kasar. Nah kita yang Indonesia, beruntung karena memiliki ras yang hampir sama dengan melayu. Untuk urutan kastanya adalah Chinese, Melayu, lalu India. Pas di singapur, saya sering dilirik oleh orang India, saya coba tanyakan ke teman saya dan ternyata orang India menganggap saya sebagai orang Cantik dimata mereka. Jadi buat orang Indonesia, standard kecantikan orang India adalah gadis berkulit sawo matang seperti kita. Orang Singapura rata-rata kalau jalan cepet-cepet, langkahnya gede-gede.. trus individualis banget.. awwwww…

Transportasi yang sering saya gunakan adalah MRT (kayak kereta kommunternya Jakarta tapi ini super duper cepet dan otomatis), jujur yang paling sangat saya benci dari Singapore adalah perjalanan nya. Dari MRT dan ke tempat tujuan yang lain, saya diharuskan jalan ples mines 3 kilometer dan itu cukup banget buat membuat kaki capek dan sempoyongan. Saya benar-benar kapok. Mencari makanan halal pun susah, makannya nasi goreng muluuu.. pernah nyoba nasi ayam khas Indonesia tapi rasanya aneh.. belom lagi apa-apa mahal. Toiletnya ngga ada air cuma tisu doang, dan.. disana saya tidak bisa sholat sama sekali. Tetapi, dari kejadian tersebut, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, saya baru menyadari bahwa Islam adalah agama sempurna yang mengatur semuanya, keteraturan, ketentraman, ketenangan, dan kedamaian.

Jadi, berdasarkan ulasan di atas, kalau ditanya apakah Singapura patut untuk di coba? Menurut saya pribadi tidak. Saya lebih memilih untuk menyarankan negara Malaysia atau Thailand yang nanti akan saya ulas di tulisan saya yang selanjutnya.



Rabu, 17 Mei 2017

My first IES on September 2016

Tanggal 29-30 September 2016, Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk mengikuti International Electronics Symposium (IES) yang di selenggarakan di Bali. Waktu itu saya mempresentasikan seminar tentang tugas akhir saya yang berjudul “Mobile Pronunciation Test”. Saya jurusan  teknologi multimedia broadcasting yang insya allah mirip dengan ilmu komunikasi cuma itu lebih spesifik ke tehniknya dan levelnya D3. 

Alhamdulillah saya tidak menyangka bisa mengikuti event ini. Hal ini bermula dari project dosen saya, beliau adalah bapak Alif Faizal Muhammad yang benar-benar total dalam membimbing saya menyelesaikan tugas akhir saya dan pak Akhmad Alimuddin. IES adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang bekerjasama dengan beberapa institusi luar negeri seperti dari Negara Jepang dan Korea.  Project dosen saya lolos seleksi IES dan saya mempresentasikan project beliau. Sayangnya, waktu itu yang mewakili jurusan saya hanya saya seorang diri. Sedangkan para peserta yang lain kebanyakan berasal dari jurusan Telkom (Tehnik Telekomunikasi), IT(tehnik informatika) dan Tekkom (Tehnik Komputer). Kebanyakan para mbak dan mas yang mengikuti IES presentasi pada tanggal 29. Sedangkan saya presentasi tanggal 30.

Ada pengalaman yang cukup menyedihkan disini. Hari pertama IES, acara selesai  pada sekitar jam 8-9 malam. Disitu kami tertinggal oleh rombongan bis, kami berjalan menyusuri jalan untuk kembali ke hotel. Alhamdulillah walau jaraknya tidak begitu jauh tapi kami merasakan capek yang luar biasa karena kami membawa barang-barang yang cukup berat. Disitu pihak dosen juga kurang bertanggungjawab dan tidak menghiraukan kondisi kami, Ya allah.. ngenes rasanya. Pas hari kedua, hari itu adalah hari yang sangat mendebarkan buat saya karena saya mempresentasikan tugas akhir saya menggunakan bahasa Inggris. Saya pikir saya akan ditunggu dan disupport oleh mbak-mbak IT, Telkom, dan Tekkom dimana kami selalu menghabiskan waktu bersama. Tetapi saya salah, salah satu dari mereka memiliki keluarga di Bali. Mereka jalan-jalan dan meninggalkan saya sendiri. Saya merasa sangat kecewa dan benar-benar ngenes.. Ya allah, kemarin kita bareng-bareng jalan bareng-bareng, susah bareng-bareng, eh pas giliran saya presentasi daya ditinggal sendiri. Saya sadar sih memang kita tidak begitu dekat dan kami berbeda satu hingga 2 tahun. Mereka lebih tua dari saya. Alhamdulillahnya saya bertemu dengan mbak-mbak muslimah syar’i dari ITB yang baik dan mau menemani saya. Dia juga mau merekam saya ketika saya presentasi. Pas selesai presentasi mbaknya balik karena takut ketinggalan pesawat untuk bertolak ke Bandung. Saya mengucapkan terimakasih dan meminta ID Line nya. Setelah itu saya kembali sendiri lagi. Eh gataunya ketemu sama speaker bule meksiko yang mewakili politeknik Singapore. Namanya Carlos, if I might say, he’s kinda hot. Tapi saya ngga berharap banyak karena saya tahu dia sudah tua banget. Hehehe..


Ini adalah dokumentasi ketika saya mengikuti IES





Dan ini untuk video dokumentasi saya ketika presentasi, hehee